Menuliskan nama lengkap, memberikan angka pada setiap huruf berdasarkan urutannya di alfabet. Angka-angkanya kemudian dikombinasikan dengan angka-angka penting yang lain. Bagai seorang alkemis. Disaksikan poster Dian Sastro yang sedang menggigit rambut -di kamar kos yang dipenuhi poster pemain sepakbola- muncullah hasil perhitungannya. 5 huruf alphabet: SVELT.
Kami berdua berada di kursi belakang mobil berisi tujuh orang, yang sedang melaju menuju lokasi pertandingan sepakbola di kabupaten sebelah. Kami bertujuh teman sedari kecil dan tinggal berdekatan, bermain bola adalah kegiatan kami sejak lama.
Seseorang menyarankan untuk mendengarkan lagu ini. Kuartikan lagu ini sebagai lagu seorang yang posesif, seorang yang mencintai terlalu dalam, sesorang yang khawatir tidak dicintai sedalam dia mencintai. Tersirat rasa tidak percaya diri, kepasrahan untuk dapat ditinggalkan setiap waktu.
Kenapa melihat air mata selalu terasa menyakitkan? Seandainya debu jalan bisa mengikisnya, atau seandainya rangkaian kata bisa mengikat lalu menenggelamkannya. Sayangnya air mata bersifat terlalu personal, mungkin karena setiap orang punya air matanya sendiri.
Kontak mata. Pada jaman dahulu kala, kami sering mendengar cerita tentang perkelahian pemuda yang tersinggung hanya karena kontak mata. Sepertinya cerita-cerita itu terlalu masuk ke alam bawah sadar sehingga aku menghindari kontak mata, khususnya ketika di keramaian.
Usianya belum menginjak 20 tahun. Tutur katanya kasar, menonjolkan sikap pembangkang, tatapan mata liar. Ferocious, dia ingin mendapatkan kesan itu. Bagi mata dan pikiran muda, mungkin gaya itu berguna memberikan teror, namun mata tua akan melihat banyak celah. Dia sepertinya sedang bermain peran, menirukan Genji dalam film Crow Zero atau peran-peran sejenis.
"Besok baru jadwal rebus air" jawabnya dari sofa tempatnya rebahan. "kalau mau bikin kopi, rebus airnya untuk dua gelas ya?!". lanjutnya sambil tertawa licik.
Tante penjaga dari ranjang pasien sebelah, menatapku dan menggelengkan kepala. Mereka baru saja keluar dari tirai yang menutupi ranjang pasien tempat Mama' dirawat. Tangis Ine' makin menjadi. Dia terduduk di lantai dan aku memeluknya berusaha menenangkan. Sementara Linda masih di samping ranjang Mama' memperhatikan para perawat dan dokter. Terlihat lebih tenang.
Kusempatkan menoleh ke jam dinding kamar ICU. Pukul 07.57. Hari ini, 17 Februari 2022, Mama' meninggal. Hari tersedih dalam hidupku.