Jumat, 18 September 2026

KAPSUL WAKTU


"Bagi hotspot dong!" minta Tette
"Ashhh....." keluhku
"Ga usah protes, buat putar musik" lanjutnya

Kami berdua berada di kursi belakang mobil berisi tujuh orang, yang sedang melaju menuju lokasi pertandingan sepakbola di kabupaten sebelah. Kami bertujuh teman sedari kecil dan tinggal berdekatan, bermain bola adalah kegiatan kami sejak lama.

"Sekalian konekkan ke bluetooth speaker mobil" kata Nobo, yang sedang menyetir

Lagu-lagu dari album-album awal Dewa 19 kemudian mengalun dari speaker mobil. Kami bernyanyi mengikuti setiap lagu. Di bagian-bagian Ari Lasso menyanyikan nada-nada tinggi, aku dan Tette akan berteriak bagai lengkingan tikus yang terjepit perangkap. Anak-anak di kursi depan serempak tertawa.

Ketika lelah bernyanyi, kami akan bercerita banyak hal. Cerita-cerita dari tahun-tahun yang telah kami lalui tak akan habis dalam perjalanan dua jam ini.

.............................................................................................

Ketika kecil dulu, kami seperti punya jadwal sendiri. Beramai-ramai menonton kartun di TVRI setiap pukul 03.30 sore. Selesai menonton kartun, kami kemudian bermain bola sampai menjelang malam di lapangan depan rumah. Ketika libur panjang sekolah, sedari pagi kami akan melakukan banyak hal. Saking banyaknya,  aib dari kami masing-masing kemudian menjadi nama julukan. Hampir semua teman masa itu tidak dipanggil dengan nama aslinya lagi. Nama julukan itu masih melekat hingga hari ini. 


Seorang teman, bangun di pagi hari dengan bekas air liur di bibir yang memutih kemudian mendapat nama julukan kumis putih, seorang lagi berambut kekuningan sehingga mendapat julukan Kumen (dari nama pemain sepakbola belanda Ronald Koeman yang berambut pirang). Ada lagi Pisol, gara-gara salah menyebutkan Pistol menjadi Pisol. Seorang lagi punya karakter bermain bola seperti Basile Boli, kami memberinya julukan Bolli'. Seorang lagi bernama Mentega, karena pernah memakai mentega sebagai pengganti minyak rambut. 

Di kamar Mentega inilah, kami sering berkumpul berdesakan dan mendengarkan lagu-lagu dari kaset pita. Lagu yang tersimpan erat dalam ingatan hingga bertahun-tahun kemudian

.............................................................................................

Aku adalah orang yang beruntung. Memiliki masa kecil yang sangat bahagia. Seorang pernah berkata "lingkunganmu sangat menyenangkan namun itu menjadi salah satu kelemahan juga. Karena menjadi zona nyaman. Kamu kadang menjadi tidak peduli dengan lingkungan di luar karena kamu selalu punya zona nyaman untuk kembali"

Kupahami arti kata-katanya. Namun mungkin aku tak peduli. Bukankah kita melalui banyak hal untuk akhirnya menemukan satu zona nyaman? Itu yang kupahami hingga hari ini, namun mungkin suatu saat pikiran itu akan berubah. Untuk saat ini, dalam banyak hal aku ingin mengapung dan mengikuti arus air. Masih terlalu lelah untuk melawannya

Sabtu, 05 September 2026

I'LL NEVER LIVE IN CHAINS



Seseorang menyarankan untuk mendengarkan lagu ini. Kuartikan lagu ini sebagai lagu seorang yang posesif, seorang yang mencintai terlalu dalam, sesorang yang khawatir tidak dicintai sedalam dia mencintai. Tersirat rasa tidak percaya diri, kepasrahan untuk dapat ditinggalkan setiap waktu.

Bisakah mencintai tanpa merasa terbebani? Bisakah mencintai tanpa kehilangan dunia sendiri? Kenapa selalu ada luka dalam mencintai? Setidaknya itu yang kurasakan. 

Tembok tinggi kubuat untuk menghalangi datangnya cinta. Namun dia tidak datang dari luar, dia datang dari dalam. Tak akan ada yang bisa menghalangi hadirnya. 

Nyaman kurasakan sejak mengabaikan perasaan cinta. Namun tiba-tiba saja muncul sosok yang tenang, feminim, suaranya teduh, di matanya kutemui dunia yang kukenali. Maka runtuhlah keenggananku untuk mencintai. Mungkin ini baru tahap suka, belum cinta. Enggan kupikirkan tapi selalu mengganggu. 

Ingin kulupakan dalam puluhan lelap yang kulewati, tak berhasil. Mungkin tulisan ini bisa meluapkan semuanya hingga tak perlu lagi perasaan itu mengganggu. Mencintai terlalu melelahkan, ingin kulupakan. Semoga
 





Jumat, 17 Juli 2026

HANYA UNTUKKU


"Look at the stars
Look how they shine for you"

Entah darimana datangnya, tiba-tiba sebuah pertanyaan muncul di dalam pikiran ketika mendengarkan lirik awal lagu Yellow.

Selasa, 07 Juli 2026

IKHLAS


Kenapa melihat air mata selalu terasa menyakitkan? Seandainya debu jalan bisa mengikisnya, atau seandainya rangkaian kata bisa mengikat lalu menenggelamkannya. Sayangnya air mata bersifat terlalu personal, mungkin karena setiap orang punya air matanya sendiri. 

Kamis, 02 Juli 2026

MATA



Kontak mata. Pada jaman dahulu kala, kami sering mendengar cerita tentang perkelahian pemuda yang tersinggung hanya karena kontak mata. Sepertinya cerita-cerita itu terlalu masuk ke alam bawah sadar sehingga aku menghindari kontak mata, khususnya ketika di keramaian. 

Sabtu, 27 Juni 2026

IWAZARU



Usianya belum menginjak 20 tahun. Tutur katanya kasar, menonjolkan sikap pembangkang, tatapan mata liar. Ferocious, dia ingin mendapatkan kesan itu. Bagi mata dan pikiran muda, mungkin gaya itu  berguna memberikan teror, namun mata tua akan melihat banyak celah. Dia sepertinya sedang bermain peran, menirukan Genji dalam film Crow Zero atau peran-peran sejenis. 

Minggu, 14 Juni 2026

GELAS KOPI



"Tadi pagi, rebus air?" tanyaku ke Alton.
"Besok baru jadwal rebus air" jawabnya dari sofa tempatnya rebahan. "kalau mau bikin kopi, rebus airnya untuk dua gelas ya?!". lanjutnya sambil tertawa licik.
"Pemalas!" 

Kamis, 16 Februari 2023

HIDUNG



Tante penjaga dari ranjang pasien sebelah, menatapku dan menggelengkan kepala. Mereka baru saja keluar dari tirai yang menutupi ranjang pasien tempat Mama' dirawat. Tangis Ine' makin menjadi. Dia terduduk di lantai dan aku memeluknya berusaha menenangkan. Sementara Linda masih di samping ranjang Mama' memperhatikan para perawat dan dokter. Terlihat lebih tenang.

Kusempatkan menoleh ke jam dinding kamar ICU. Pukul 07.57. Hari ini, 17 Februari 2022, Mama' meninggal. Hari tersedih dalam hidupku.

Sabtu, 11 Februari 2023

RUANG PRIVASI



"Pacarmu sepertinya berubah, setiap datang ambil pesanan, selalu terburu-buru pulang?" Tanya bapak yang muncul di depan pintu dengan senyumnya yang usil.
"Sudah putus, pak" jawabku
"Kenapa? terlalu lama menunggu kamu lamar? bukankah dulu sudah kamu kenalkan ke mama' waktu mama' di ICU?" 

Pertanyaan-pertanyaan bapak tidak siap kujawab. Aku terdiam, teringat mama'. Bapak berhenti bertanya dan memilih pergi ketika melihatku terdiam. Untuk pertamakalinya bapak bertanya tentang urusan pasanganku.

Minggu, 05 Februari 2023

TANGIS




Gagal, kalah, menyesal, putus asa dan ketika suara tak mampu menampungnya, hanya air mata yang mampu mewakilkannya.

Air mata paling "tulus" yang pernah mentes adalah air mata untuk mama'. Tak pernah menangis seperti itu sebelumnya. Mata airnya adalah di hati dan satu-satunya jalurnya adalah ke mata.

FOLLOWER

READ MORE