Kenapa melihat air mata selalu terasa menyakitkan? Seandainya debu jalan bisa mengikisnya, atau seandainya rangkaian kata bisa mengikat lalu menenggelamkannya. Sayangnya air mata bersifat terlalu personal, mungkin karena setiap orang punya air matanya sendiri.
Kontak mata. Pada jaman dahulu kala, kami sering mendengar cerita tentang perkelahian pemuda yang tersinggung hanya karena kontak mata. Sepertinya cerita-cerita itu terlalu masuk ke alam bawah sadar sehingga aku menghindari kontak mata, khususnya ketika di keramaian.
Usianya belum menginjak 20 tahun. Tutur katanya kasar, menonjolkan sikap pembangkang, tatapan mata liar. Ferocious, dia ingin mendapatkan kesan itu. Bagi mata dan pikiran muda, mungkin gaya itu berguna memberikan teror, namun mata tua akan melihat banyak celah. Dia sepertinya sedang bermain peran, menirukan Genji dalam film Crow Zero atau peran-peran sejenis.
"Besok baru jadwal rebus air" jawabnya dari sofa tempatnya rebahan. "kalau mau bikin kopi, rebus airnya untuk dua gelas ya?!". lanjutnya sambil tertawa licik.
Tante penjaga dari ranjang pasien sebelah, menatapku dan menggelengkan kepala. Mereka baru saja keluar dari tirai yang menutupi ranjang pasien tempat Mama' dirawat. Tangis Ine' makin menjadi. Dia terduduk di lantai dan aku memeluknya berusaha menenangkan. Sementara Linda masih di samping ranjang Mama' memperhatikan para perawat dan dokter. Terlihat lebih tenang.
Kusempatkan menoleh ke jam dinding kamar ICU. Pukul 07.57. Hari ini, 17 Februari 2022, Mama' meninggal. Hari tersedih dalam hidupku.
"Pacarmu sepertinya berubah, setiap datang ambil pesanan, selalu terburu-buru pulang?" Tanya bapak yang muncul di depan pintu dengan senyumnya yang usil.
"Sudah putus, pak" jawabku
"Kenapa? terlalu lama menunggu kamu lamar? bukankah dulu sudah kamu kenalkan ke mama' waktu mama' di ICU?"
Pertanyaan-pertanyaan bapak tidak siap kujawab. Aku terdiam, teringat mama'. Bapak berhenti bertanya dan memilih pergi ketika melihatku terdiam. Untuk pertamakalinya bapak bertanya tentang urusan pasanganku.
Gagal, kalah, menyesal, putus asa dan ketika suara tak mampu menampungnya, hanya air mata yang mampu mewakilkannya.
Air mata paling "tulus" yang pernah mentes adalah air mata untuk mama'. Tak pernah menangis seperti itu sebelumnya. Mata airnya adalah di hati dan satu-satunya jalurnya adalah ke mata.
Rumah, benteng pertahanan mentalku, kini kehilangan suasana yang kukenal. Kasur, bantal, jendela, komputer, gelas kopi tak banyak berubah. Teriakan anak kecil di jalan, candaan tetangga, juga masih seperti yang kuingat. Aku masih benci bau asap rokok bangsat yang menempel dimana-mana. Aku masih benci ketika waktuku untuk menyendiri terusik.