Sabtu, 05 Maret 2011

GAMBAR WALLPAPER ed. ULELEAN PARE: LEBONNA - PAERENGAN

LEBONNA-PAERENGAN (CLICK FOR DETAIL)

Sekumpulan anak kecil dalam berbagai posisi, melingkari seorang nenek. Sang nenek bercerita diiringi nyanyian penghuni malam, mengantarkan imaginasi anak-anak kecil yang mengelilinginya menyuguhkan sebuah petualangan pikiran dengan sensasi tersendiri. Dalam keremangan suasana dan  kehangatan akibat sumbangan panas yang keluar dari tubuh-tubuh yang menyesaki ruangan kecil di rumah beratap menyerupai perahu yang biasa disebut Tongkonan itu, sebuah kisah diturunkan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.



Anak-anak di rumah-rumah Tongkonan Toraja sudah berpetualang dalam alam imaginasi, jauh sebelum ada buku cerita bergambar, atau film kartun dan animasi yang menampilkan hasil imaginasi orang dewasa. Saya sendiri (merasa termasuk kategori dewasa) mencoba menuangkan imaginasi saya mengenai ulelean pare yang pernah saya dengar waktu kecil dulu ke dalam sebuah sketsa gambar. Gambar tersebut sebisa mungkin menggambarkan keseluruhan kisah dari cerita yang ingin digambarkan dan dengan bantuan Rampa Maega , penulis novel Landorundun, saya bisa memperoleh gambaran tersebut -beruntungnya lagi, gambar di atas memang ditujukan untuk digunakan dalam trailler novel Landorundun-. Oleh karena itu, saya harus menggambarnya di rumah untuk mendapatkan kembali suasana yang saya rasakan waktu mendengar cerita itu bertahun-tahun yang lalu. Gambar yang telah berhasil saya buat adalah gambar Tulang Didi’, Dodeng, Landorundun, dan Polopadang. Gambar tersebut akan saya tampilkan secara berkala dalam rumahgambar. -Beruntungnya lagi, gambar Tulang Didi', dan Polopadang juga muncul dalam trailler novel Landorundun-

Saya kemudian menyadari bahwa anak Toraja zaman dahulu diajarkan megenai nilai-nilai moral melalui cara yang menyenangkan, yaitu dengan ulelean pare. Cerita tentang Seba sola Wati (monyet dan larva kumbang) menceritakan bagaimana seekor larva kumbang yang menggunakan kepandaian dapat mengelabui seekor monyet yang mengandalkan kelebihan fisiknya. Seba sola Balao (monyet dan tikus) menceritakan bagaimana seekor tikus yang cerdas mengelabui (lagi-lagi) seekor monyet. Cerita Tulang Didi’ dan Bulu Pala’ lebih menekankan bagiamana peran orang tua dalam mendidik dan membimbing anaknya. Tulang Didi’ dan Bulu Pala’ adalah dua tokoh dalam cerita rakyat Toraja yang memperoleh tindak kekerasan dari orangtuanya, namun akhirnya mereka berhasil menjadi orang yang dikenal hampir semua orang Toraja.

Pendidikan zaman dahulu dengan segala keterbatasannya telah mampu menurunkan nilai-nilai moral dengan cara yang sedemikian kreatif dan menyenangkan, bagaimana dengan saat ini?



4 komentar:

FOLLOWER

READ MORE