Sabtu, 05 Maret 2011

NOVEL LANDORUNDUN








Gambaran lingkungan yang pernah tertangkap oleh mata dan terekam di memori otak adalah bahan mentah untuk sebuah imaginasi. 

Ketika berumur sekitar 4 tahun, ibu saya sudah sering menceritakan ulelean pare (obrolan padi, meminjam istilah Rampa Maega) sebagai pengantar tidur. Rekaman lingkungan sekitar yang terekam dalam memori otak 4 tahun saya masih sangat terbatas pada lingkungan sekitar rumah. Ketika ibu memulai kalimat pertama dari setiap ulelean pare, otak saya secara spontan merespon “narasi” itu dan memunculkan film yang merupakan rangkaian kepingan-kepingan memori lingkungan sekitar yang telah terekam dalam memori saya.

Jadilah sebuah film imaginasi mengenai kejadian dalam ulelean pare seperti: Seba Sola Wati (monyet dan larva kumbang), Seba Sola Balao (monyet dan tikus), Bulu Pala’ (Nama tokoh, terjemahan harafiah: telapak tangan yang berbulu), Tulang Didi’ (nama tokoh) dan Sokko Mebali (kerbau dengan tanduk menghadap tanah yang bisa berbicara) dengan latar lingkungan di sekitar rumah saya.

22 tahun kemudian, Rampa Maega hadir dengan sebuah novel berjudul Landorundun. Novel yang judulnya mengajak saya bernostalgia dengan kisah yang telah saya dengar ketika memori saya masih menampung sangat sedikit informasi. Dengan memori saya saat ini yang berumur 26 tahun, saya memiliki lebih banyak bahan mentah untuk sebuah film imaginasi dengan narasi yang dituliskan Rampa Maega.

Beberapa hal yang mencuri perhatian saya dalam novel Landorundun adalah: Cerita rakyat Landorundun yang diceritakan kembali dengan sangat detail dan dengan penambahan 2 karakter, Tangke Kila’ dan Rannu La’bi’, munculnya penggunaan londe antara Salogang dengan Lambe’ Susu, dan antara Bendurana dengan Landorundun,  penggunaan beberapa istilah dalam adat Toraja beserta pengertiannya, beserta munculnya nama-nama khas Toraja yang mengobati rasa ingin tahu saya tentang nama –nama yang dipakai orang Toraja pada zaman dahulu sebelum injil masuk Toraja, perdebatan tokoh Bendurana dengan Kinaa mengenai pemahaman agamanya.

Menceritakan kembali kisah Landorundun dengan penambahan karakter Tangke Kila’ dan Rannu La’bi’ tanpa mengganggu alur cerita secara keseluruhan menggambarkan bagaimana seorang Rampa Maega mendalami kisah Landorundun.

Londe yang telah lama hilang dalam tradisi muda mudi Toraja dimunculkan kembali lengkap dengan beberapa londe yang membuat saya membayangkan romantisme muda-mudi zaman dahulu.

Rampa Maega juga kembali mengingatkan akan kebijaksanaan leluhur kita dalam memberikan istilah untuk berbagai hal. Nilai filosofi yang tinggi dapat kita temukan pada istilah seperti Rampanan Kapa’, maro dan ulelean pare. Rampa Maega memudahkan pembaca untuk dapat dengan segera mengambil makna dari setiap istilah tersebut.

Nama-nama khas Toraja yang muncul seperti Salogang, Lambe’ Susu, Patodenmanik, Landorundun, Kinaa, Rupang, Dassiriri, Pong Suloara’ sedikit memberikan referensi bagaimana bahasa Toraja memberikan banyak pilihan bagi para orangtua yang ingin memberikan nama kepada anaknya.

Salah satu percakapan yang saya suka dari novel ini adalah ketika Kinaa dan Bendurana berdebat mengenai pemahaman akan Tuhan. Tipe percakapan yang sangat cerdas dan membuat kita kembali merenungkan seperti apakah kita memaknai Tuhan dalam kehidupan kita.

Satu hal yang menjadi pertanyaan saya adalah bagaimana proses Salogang dan Lambe’ Susu hingga menjadi orang dengan banyak pa’anakan di Batupapan? Adanya pa’anakan menunjukkan bahwa mereka dengan cepat menjadi orang dengan status sosial yang tinggi di daerah tersebut. Selain itu dengan penggunaan kosakata Toraja dalam jumlah banyak memungkinkan beberapa pembaca kesulitan. Catatan kaki cukup membantu namun tentu saja agak merepotkan untuk mencari catatan kaki mengenai suatu istilah yang muncul pada halaman-halaman selanjutnya. Saran saya sebaiknya ada semacam glosarium di bagian halaman belakang sehingga pembaca cukup mudah mencari pengertian istilah-istilah.

Satu hal yang sangat saya suka dari novel Landorundun adalah bersandingnya bahasa Toraja dengan bahasa gaul khas anak ibukota dan bahasa Inggris. Ketiga jenis bahasa tersebut memiliki lingkup yang berbeda, dimana bahasa Toraja sebagai salah satu bahasa daerah yang semakin terpinggirkan, bahasa gaul yang semakin menguasai bahasa komunikasi anak muda senusantara dan bahasa Inggris sebagai bahasa global. Rampa Maega menyuguhkan kekayaan kosakata di bumi yang membuat kita menyayangkan jika salah satunya punah terutama bahasa daerah.

Bahasa Rampa Maega untuk mendeskripsikan keindahan Toraja cukup bagi saya untuk mengerti apa yang membuat saya selalu mencintai Toraja. Suhu udara, setiap suara, setiap cahaya yang dipantulkan benda yang ada di Toraja telah begitu dikenali oleh setiap sel penyusun tubuh saya. Semua itu cukup untuk merangsang otak saya memunculkan kembali file-file imaginasi yang telah dibentuk oleh rangsangan serupa yang pernah saya alami.

Novel yang dibahasakan dengan indah namun cukup mudah dipahami. Kombinasi konflik antar karakter, petualangan menjelajahi berbagai daerah Toraja dengan keunikannya, nilai-nilai kearifan lokal Toraja beserta sedikit bumbu renungan untuk kehidupan beragama kita membuat buku ini harus selesai dibaca dengan segera kalau tidak ingin dibuat penasaran. Keinginan penulis untuk mengangkat kembali pariwisata Toraja jelas nampak dalam bahasa yang digunakan dalam beberapa bagian buku ini. Sehingga kemungkinan banyak orang yang akan tertarik melakukan napak tilas kehidupan Landorundun setelah membaca buku ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

FOLLOWER

READ MORE