Jumat, 10 April 2015

HUJAN

Image courtesy of mchectr.deviantart.com

Gemuruh yang akrab itu terdengar. Suara dari tetesan air hujan yang jatuh mengenai dedaunan, atap-atap rumah, tanah, dan batu. Perlahan suaranya mendekat, dan akhirnya tetes-tetes air hujan itu sampai juga ke sini. Hujan deras tanpa angin kencang dan petir, selalu membuat nyaman. Melalukan kebisingan dalam pikiran melarutkannya dalam gemuruhnya.
.........................................................................

Teriakan-teriakan riang anak-anak kecil bermain bola di lapangan, mencoba menyaingi gemuruh hujan. Mereka menikmati aroma rumput membusuk yang bercampur dengan lumpur, menikmati genangan air yang keruh, menikmati tetes-tetes hujan.

"Mau main bola gak? tapi ga pake sepatu" ajak seorang sahabat. 
"Ya...ayo!!" jawab saya balik menantang
Tak perlu bersusah payah mengajak teman yang lain untuk bergabung, godaan magis hujan bekerja dengan sendirinya.

Di sini, di atas rumput dan lumpur yang menggoda saraf-saraf kaki, di atmosfer yang dipenuhi tetesan air hujan, seakan alam mengumpulkan keceriaannya. Aku bukan lagi seorang dewasa yang memikirkan citra, aku sama seperti anak-anak kecil itu. Menyerap keceriaan di udara bersamaan dengan tarikan napas dan melepaskan pekat penat seiring hembusan napas.

"apakah engkau tetes air yang sama yang pernah hadir di masa kecilku dulu?"
"apakah kegembiraan masa kecilku itu kau larutkan dan kau simpan dan sekarang kau bagikan kembali?"
"hujan, terimakasih"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

FOLLOWER

READ MORE