Senin, 15 Februari 2016

AKAN TETAP KUPUJI TUHANKU


image courtesy of savedart.deviantart.com

Kusodorkan secarik kertas. Berharap pemain keyboard itu akan menyerahkannya kepada penyusun liturgi ibadah hari minggu di gereja, sore ini. Hari ini, 14 Februari 2016, hari minggu, juga hari ulangtahunku yang ke-31. Kebahagiaanku meluap. Ingin memuji Tuhan dengan sebuah pujian di hadapan jemaat. Secarik kertas bertuliskan lirik lagu telah kupersiapkan, kusisipkan dengan baik di dalam saku kemeja. Kugunakan setelan terbaik yang kumiliki.

Satu persatu susunan acara dalam liturgi berlalu. Kutunggu pengumuman itu dengan hati berdebar. Namun, pengumuman itu tak kunjung diucapkan dari mimbar hingga ibadah berakhir. Perasaanku bercampur aduk. Kecewa, sedih, merasa tak dianggap. Apakah pemain keyboard itu lupa memberitahukannya kepada penyusun liturgi? Ataukah karena sebagian besar orang menganggapku sebagai orang dengan pemikiran tidak seperti orang kebanyakan -kadang mereka menyebutku tidak waras, bahkan kadang secara kasar menyebutku orang gila-?


Suaraku jauh dari merdu. Mungkin hampir semua jemaat yang hadir akan menertawakan suaraku. Aku tak peduli, aku hanya ingin menyanyikan kebahagianku. Kalau saja mereka tahu, aku ingin menyanyi dengan tulus kepada Bapa di sorga. Bukan untuk menyenangkan telinga mereka.

Aku iri kepada para penyanyi yang bersuara indah itu. Sebagian dari mereka mengkomersilkan suaranya dengan menyanyikan lagu-lagu rohani kemudian mempromosikannya ke gereja-gereja. Mereka mendapat tepuk tangan, pujian dan uang. Tak ada satupun dari itu yang kuharapkan. Aku hanya berharap dapat memuji Tuhan di sini. Di gereja ini.

Sekarang aku di sini, di sebuah pondok kecil. Bersama tiga orang pemuda yang berbaring menikmati alunan musik dari handphone. Menikmati malam. Aku menceritakan kisahku, mengungkapkannya, terlalu sakit memendamnya. Kurogoh saku kemejaku, kuambil secarik kertas, membuka lipatannya secara perlahan. Cahaya samar dari teras rumah di seberang pondok membantuku membaca lirik lagu yang kutuliskan pada kertas itu. Lirih kunyanyikan. Kemudian salah seorang pemuda mengambil gitar, memetiknya. Berusaha mengiringiku. Sepenuh hati kubernyanyi untuk Bapaku:


Ku berbahagia yakin teguh
Yesus abadi kepunyaanku
Aku warisnya 'ku ditebus
Ciptaan baru Rohul Kudus 

Reff: 
Aku bernyanyi bahagia
Memuji Yesus selamanya
Aku bernyanyi bahagia
Memuji Yesus selamanya

Pasrah sempurna, nikmat penuh
Suka sorgawi melimpahiku
Lagu malaikat amat merdu
Kasih dan rahmat besertaku 

Reff: 
Aku bernyanyi bahagia
Memuji Yesus selamanya
Aku bernyanyi bahagia
Memuji Yesus selamanya

Aku serahkan diri penuh
Dalam Tuhanku hatiku teduh
Sambil menyongsong kembali-Nya
'Ku diliputi anugerah

Reff: 
Aku bernyanyi bahagia
Memuji Yesus selamanya
Aku bernyanyi bahagia
Memuji Yesus selamanya



Selamat ulangtahun, Fery

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

FOLLOWER

READ MORE