Selasa, 22 Desember 2015

MENUNGGU SUARA



Tiupan angin menguraikan awan pekat. Seperti penghapus yang menipiskan goresan pensil. Pucuk bambu bergerak lentur mencambuki atmosfer. Daun-daunnya bergesekan menyanyikan sunyi. Burung-burung pipit meloncat lincah mencari makan. Burung tekukur, berdengkur pasrah di dalam kandang berlimpah makanan.


Gemuruh yang terbendung, mengalir membaur dengan irama alam. Pikiran kembali tenang, terasa tanpa beban. Kemudian sebuah pemahaman mengisi kekosongan itu. Tentang cinta yang mendewasakan. Tentang cinta yang sedikit demi sedikit mengikis angkuhku. Tentang menunggu, keadaan menunggu yang membuatku berdebat tak henti dengan diriku sendiri. Tentang hari kemarin yang terlalu erat terikat di pikiran. Tentang hari esok yang selalu kubicarakan. Tentang hari ini yang kadang terlupakan.

Ketika kurasa cinta mulai kembali mempermainkanku, sebuah diam menyadarkan. Dalam tiap detik menunggu, kudengarkan perdebatan pikiran. Kusaksikan keangkuhanku. Kutangisi lemahku. Kukagumi setiaku. Dalam tiap detik menuggu, kurasakan perasaan sayang ini yang kini semakin dewasa. Dalam tiap detik menunggu, aku semakin menyayangimu, Reana.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

FOLLOWER

READ MORE