Jumat, 15 April 2016

DREAMING ABOUT TOMORROW



Berada dalam dunianya sendiri. Dunia di mana imaginasi bebas berkembara, memanen kepingan ide. Ketika setiap tarikan garis membawa sebuah bentuk ke dalam kertas putih.
"Beberapa tarikan garis lagi dan gambar ini akan selesai" pikirnya.
Bibirnya menyunggingkan senyum, menandakan kepuasan. Kepuasan akan sebuah karya yang sebentar lagi selesai.

Istrinya membawakan segelas kopi panas. Aromanya menebarkan kesegaran di udara, kian menambah senyum bahagia di wajahnya. Ditinggalkannya sejenak dunia imajinasinya untuk menatap istrinya. Tatapan mata mereka bertemu, tanpa kata, ada ungkapan terimakasih, ada ungkapan sayang, ada cinta yang tak bisa diungkapkan namun siapapun yang berada di situ akan merasakan kehangatan kasih sayang.

Suara anak kecil membuat matanya bersinar ceria, penuh manja datang melingkarkan tangan ke lehernya. Sebuah pelukan yang melengkapi sukacitanya. 

Sebuah gerakan kecil si kecil, gelas kopi jatuh, menumpahkan isinya. Cairan hitam mencemari kertas putih. Sebuah karya yang telah menyita berjam-jam waktunya, menyita begitu banyak tenaganya kini hanya menjadi sebuah kertas rapuh tak berharga.

Sejenak hening menyerap segala cinta, kasih sayang dan kebahagiaan yang sedari tadi memenuhi ruangan.

"Anakku tidak suka gambarnya, berarti harus diulang lagi" katanya sambil menggendong dan memeluk anaknya. Wajah tegang istrinya berganti wajah penuh bahagia. Dipeluknya suaminya. "Aku tak salah memilihmu" katanya di dalam hati. Dan seketika cinta, kasih sayang dan kebahagian kembali memenuhi ruangan.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

FOLLOWER

READ MORE