Selasa, 07 Juni 2016

SAHABAT



"Menurut kamu, jodoh itu ada di tangan Tuhan atau di tangan manusia?" tanya Dadang
"Jodoh itu ada di tangan manusia" jawab saya.

Jawaban saya mengawali perdebatan panjang kami tentang agama dan juga tentang Tuhan. 

"Sampai sekarang saya masih mempertanyakan Tuhan" pendapat saya yang segera didebat dengan hebat oleh kedua rekan saya. Pendapat itu bagaikan tetes air yang menghancurkan  kitab pusaka yang berisi pemahaman mereka tentang Tuhan.
Di dalam perdebatan kemudian saya memahami kalimat itu kami pahami secara berbeda. Mereka memahaminya sebagai: saya meragukan keberadaan Tuhan, sedangkan saya memahaminya sebagai: saya masih selalu berusaha memahami keberadaan Tuhan dalam kehidupan saya. Setiap kejadian kehidupan dapat ditanggapi secara beragam, di situlah saya selalu bertanya Tuhan berada di mana. Merenungkan setiap keputusan atau kesimpulan yang saya ambil, memilih yang mana yang sesuai dengan yang Tuhan harapkan. Bagi saya, keistimewaan yang Tuhan berikan pada manusia adalah kebebasan untuk memilih dan mempertanggungjawabkan pilihan itu. Tuhan selalu bersedia menuntun tapi tidak mendikte. Jika Tuhan yang mendikte dan menentukan kehidupan kita, tidak mungkin Dia akan memberikan akhir yang buruk. Jika demikian bukankah seharusnya semua manusia masuk surga? 

Teman debat saya menganggap saya sesat. Saya sama sekali tidak tersinggung, karena saya tahu mereka salah paham. Di titik ini, saya merasa senang mereka salah paham. 

Teringat beberapa tahun lalu, saya terlibat dalam pedebatan serupa dengan teman yang sekarang menjadi sahabat. Berapa banyak kesalahpahaman yang harus dilalui untuk merubah teman menjadi sahabat? Banyak! 

Sahabat bagi saya adalah binatang langka yang tidak akan punah selama saya masih hidup. Langka karena tidak akan menghabiskan seluruh jari tangan untuk menghitung jumlahnya. Tidak akan punah karena mereka akan selalu melengkapi bahagia dan melunturkan hitamnya duka. Hanya sahabat yang akan menganggap makian, umpatan dan kata-kata tabu yang saya ucapkan sebagai lelucon. Hanya sahabat yang mudah mengerti kata-kata yang saya ucapkan tanpa banyak penjelasan. Hanya satu manusia yang dapat bersahabat dengan seluruh manusia, Yesus Kristus.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

FOLLOWER

READ MORE