Jumat, 03 Juni 2016

TULUS


Rentang kesejahteraan sangat lebar di sini. Perbedaannya nampak jelas seperti totol-totol bulu anjing dalmatian. 


Di sebuah warung, seorang wanita nampak kesal. Nasi goreng yang dipesannya terlalu asin. Tak ingin menyiksa indra pengecapnya, dia tidak melanjutkan makan. Belasan ribu rupiah menjadi sia-sia untuk makanan yang mungkin akan berakhir di tempat sampah. Makanan adalah tentang memuaskan indra pengecap, uang tidak menjadi masalah.

•••

Seorang pria sedang membersihkan botol-botol plastik di atas trotoar. Dipisahkannya botol-botol yang telah bersih dari label-label kemasan dan memasukkannya ke dalam karung. Mungkin botol-botol itu hanya akan terjual beberapa ribu rupiah. Usianya tak lagi muda, seharusnya sekarang dia duduk santai sambil menonton televisi atau berkumpul bersama keluarganya di rumah. Namun bagaimana dia bisa santai jika dia belum makan? mungkin keluarganya juga di rumah demikian. Bisa menyajikan makan untuk dirinya dan keluarganya mungkin adalah tujuan utamanya setiap hari.

•••

Seorang teman pernah bercerita tentang pengalamannya ketika bertanya kepada seorang bijak;
"Bagaimana mengetahui bahwa kita menolong dengan tulus?"
"Jika kamu melakukannya tanpa berpikir" 

Jakarta. Kota dimana banyak orang membutuhkan perhatian dan banyak juga orang mampu memberikan perhatian. Namun rentang kesejahteraan itu masih terlalu lebar.

Lupakan larangan-larangan untuk membantu orang-orang di pinggir jalan. Lupakan anggapan orang lain. Bukankan jutaan doa setiap harinya disebut untuk orang miskin dan kelaparan? Mengapa mereka diabaikan ketika muncul di hadapan kita? Tidak cukup menolong hanya dengan doa, menolonglah juga dengan perbuatan. Haruskah iman mati karena nihil perbuatan? Biarkan ketulusan mengalir dari dirimu!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

FOLLOWER

READ MORE