Usianya belum menginjak 20 tahun. Tutur katanya kasar, menonjolkan sikap pembangkang, tatapan mata liar. Ferocious, dia ingin mendapatkan kesan itu. Bagi mata dan pikiran muda, mungkin gaya itu berguna memberikan teror, namun mata tua akan melihat banyak celah. Dia sepertinya sedang bermain peran, menirukan Genji dalam film Crow Zero atau peran-peran sejenis.
Gerakan jarum jam menyingkap debu. Menampakkan wajah lemah yang kucari. Berbagi rokok, bergelas-gelas kopi dan cerita. Ternyata dia sosok yang dalam ingatanku sering bermandikan lumpur di lapangan, lebih sering dalam kondisi menangis ketika sedang bermain dengan teman sebayanya. Dia bahkan pernah bermain ke rumah bersama ponakan dan makan telur dadar buatan almarhum Mama'. Retakan pertama terlihat.
Dari umur yang masih sangat kecil, dia telah tinggal di rumah sanak saudara. Meninggalkan perlindungan ketiak orang tua. Retakan kedua
Sekarang dia tinggal bersama orang lain, yang bukan sanak saudara dan bekerja keras sebagai buruh bangunan. Sesekali dia menyempatkan mengirimkan uang kepada orang tua di kampung. Bahkan ibunya sudah sejak lama harus rutin berobat karena menderita penyakit paru-paru. Retakan ketiga
Tegukan tuak dan arah pembicaraan membuatku memberanikan diri mengkritik cara berbicaranya. Ku tahu itu adalah bentuk perlindungannya. Menghindari retakan-retakan baru memperburuk jiwanya. Namun kuambil resiko untuk merusak perlindungan itu.
Aku sadar, mungkin hanya sedikit kenangan indah masa lalu dimana dia bisa kembali untuk berpegangan, namun ada masa depan yang tidak boleh diretakkannya. Aku merasa buruk hingga harus membuat tulisan ini, untuk mengingatkan diri jika suatu saat masa depannya memiliki semakin banyak retakan, salah satu retakan awal itu adalah buatanku
Tidak ada komentar:
Posting Komentar